Dinkes Boltara Ingatkan Warga Waspadai Dampak Kemarau: Cegah Polusi, Kebakaran Hutan, dan Penyakit Sensitif Iklim

Boltara, temposatu.com — Memasuki musim kemarau, masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai ancaman kesehatan yang berpotensi meningkat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), polusi udara, serta penyakit sensitif iklim.

Imbauan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boltara, Sofian Mokoginta, SKM., menyusul Surat Edaran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK 02.02/C/2663/2026 tentang langkah antisipasi menghadapi potensi peningkatan karhutla, polusi udara, dan penyakit sensitif iklim pada musim kemarau.

Sofian mengatakan, perubahan kondisi lingkungan selama musim kemarau dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk penyakit tular vektor, tular air, dan tular udara. Karena itu, diperlukan langkah pencegahan secara terpadu, mulai dari masyarakat hingga fasilitas pelayanan kesehatan.

Perkuat Pencegahan dan Pengendalian Faktor Risiko

Dinas Kesehatan mendorong penguatan upaya preventif dan promotif melalui penyuluhan kepada masyarakat. Salah satunya dengan menyediakan media komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) mengenai cara mencegah penyakit sekaligus mengenali gejala sejak dini.

Masyarakat juga diingatkan untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk menjaga higiene dan sanitasi lingkungan.

Selain itu, intervensi lingkungan dan pengendalian vektor perlu diperkuat melalui rekayasa atau perbaikan lingkungan serta peningkatan kualitas media lingkungan yang berpotensi menjadi sumber penularan penyakit.

Kualitas Udara Jadi Perhatian

Ancaman polusi udara selama musim kemarau juga menjadi perhatian. Pemerintah daerah didorong untuk menerapkan strategi peningkatan kualitas udara sekaligus melakukan pengelolaan dampak kesehatan yang ditimbulkan.

Sosialisasi terkait diagnosis dan tata laksana penyakit sensitif iklim juga perlu ditingkatkan agar tenaga kesehatan mampu memberikan penanganan secara cepat dan tepat.

Surveilans Diperkuat, Potensi KLB Diantisipasi

Menurut Sofian, kewaspadaan tidak hanya dilakukan melalui pencegahan, tetapi juga dengan memperkuat sistem surveilans.

Surveilans penyakit berbasis lingkungan dilakukan dengan memantau sekaligus memverifikasi tren kasus. Pemantauan faktor risiko, termasuk kepadatan nyamuk, juga menjadi bagian penting dalam mendeteksi potensi peningkatan penyakit.

Kajian epidemiologis terhadap penyakit dan faktor risiko kesehatan yang berpotensi menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) turut didorong melalui riset pemodelan, riset prediktif, maupun riset operasional.

Kewaspadaan dini dan kesiapsiagaan terhadap penyakit sensitif iklim, termasuk penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB, harus ditingkatkan melalui deteksi dini dan respons awal, baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) maupun fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL).

Masyarakat juga didorong untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap peringatan dini dengan memantau informasi kualitas udara secara real-time melalui sumber resmi.

Pastikan Fasilitas Kesehatan Siap

Dinas Kesehatan Boltara juga memastikan fasilitas pelayanan kesehatan, baik tingkat pertama maupun tingkat lanjut, siap menangani keluhan dan gangguan kesehatan masyarakat yang muncul akibat dampak musim kemarau.

Pemantauan terhadap ketersediaan logistik untuk pemeriksaan kasus penyakit berbasis lingkungan di FKTP dan FKTL juga perlu dilakukan secara berkala.

Sofian menegaskan bahwa menjaga kesehatan selama musim kemarau membutuhkan keterlibatan semua pihak. Masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah munculnya faktor risiko, terutama yang berkaitan dengan polusi udara, kualitas air, penyakit berbasis lingkungan, dan kebakaran hutan maupun lahan.

Cegah Kebakaran, Jaga Udara, Hindari Penyakit

Untuk menekan dampak kesehatan akibat musim kemarau, masyarakat Boltara diimbau untuk:

* Menggunakan masker ketika berada di lingkungan dengan udara tercemar atau berpolusi.

* Menghemat air sekaligus menjaga kebersihan dan kualitas air.

* Melaksanakan PSN 3M Plus secara rutin untuk mencegah berkembangnya nyamuk penular penyakit.

* Tidak membuka lahan dengan cara membakar.

*Bersama-sama melindungi hutan, lahan, dan lingkungan.

“Waspadai hari ini, sehat di masa depan,” ujar Sofyan Mokoginta.

Ia berharap seluruh masyarakat dapat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan sejak dini. Menurutnya, pencegahan yang dilakukan bersama akan jauh lebih efektif dalam menghadapi berbagai risiko kesehatan yang muncul selama musim kemarau.

“Cegah kebakaran, jaga udara, hindari penyakit, dan jaga kesehatan bersama.”tutupnya.

(AngQ)

Related Articles

Back to top button
Hide Ads for Premium Members by Subscribing
Hide Ads for Premium Members. Hide Ads for Premium Members by clicking on subscribe button.
Subscribe Now