RSUD Boltara Disebut Jadi Arena Uji Nyali, Penerangan Minim, Air Tak Layak, Direktur Bungkam!

Boltara, temposatu.com – Tabir gelap yang menyelimuti manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bolaang Mongondow Utara (Boltara) kian terkelupas, menyisakan bau anyir terkait anggaran pemeliharaan. Alih-alih menjadi tempat menjemput kesembuhan, rumah sakit kebanggaan daerah ini kini dicap tak lebih dari sekadar lokasi syuting film horor yang mencekam dan menjijikkan.
Kritik pedas menghantam keras dari mantan legislator Boltara, Reba Pontoh. Dengan nada geram, ia menelanjangi kondisi infrastruktur rumah sakit yang dianggap sudah tidak manusiawi bagi keluarga pasien yang sedang bertaruh nyawa
“Kalau malam hari, RSUD Boltara ini lebih cocok jadi tempat syuting film horor. Lorong-lorongnya gelap gulita, lampu mati di hingga tangga menuju lantai 4 RSUD. Ini bukan tempat orang sakit, ini arena uji nyali! Sangat tidak nyaman dan menakutkan bagi kami,” tegas Reba dengan nada menyindir pada sabtu 04/04/2026.
Tak berhenti di kegelapan, RSUD Boltara juga dihantam isu krisis air bersih. Penggunaan air yang dianggap tidak layak pakai menjadi pelengkap penderitaan keluarga pasien.
“Bagaimana mungkin sebuah institusi medis mengabaikan sanitasi dasar jika bukan karena manajemen yang sudah sakit,”? tanya Reba Pontoh.
Di tengah jeritan rakyat yang dipaksa menikmati fasilitas bobrok, Direktur RSUD Boltara justru menunjukkan sikap pengecut. Upaya konfirmasi media melalui panggilan telepon hingga pesan WhatsApp tak pernah digubris.
Sikap bungkam seribu bahasa ini kian memperkuat spekulasi adanya permainan kotor di internal manajemen.
Reba Pontoh kini mulai bertanya, ke mana larinya anggaran pemeliharaan rutin jika gedung dibiarkan membusuk?
Apakah kegelapan di lorong RSUD sengaja diciptakan untuk menutupi bobroknya pengelolaan keuangan?
Mengapa Direktur memilih sembunyi di balik meja saat rakyat menuntut penjelasan?
Reba pun menilai pelayanan kesehatan di Boltara kini berada di titik nol. Ia mendesak Pemerintah Kabupaten, tertama Bupati dan Wakil Bupati, untuk segera melakukan cuci gudang di jajaran manajemen RSUD Boltara.
“Rakyat tidak butuh janji, rakyat butuh evaluasi total dan pemecatan bagi mereka yang gagal bekerja. Jika kondisi Gedung horor ini dibiarkan berlarut, maka RSUD Boltara akan selamanya berdiri sebagai monumen kegagalan dan simbol matinya rasa kemanusiaan pemerintah daerah.”tegas mantan legislator periode 2014-2019 Reba R. Pontoh.
Ia pun menyebut masyarakat menunggu, Apakah Bupati punya nyali untuk mengevaluasi, atau justru ikut membiarkan RSUD Boltara terus membusuk?
Hingga berita ini tayang, upaya konfirmasi terus dilakukan kepada pihak RSUD Boltara, namun belum ada respons resmi yang diberikan.
(Angki)




