RSUD Boltara Disebut Jadi Arena Uji Nyali, Dirut Angkat Bicara

Boltara, temposatu.com – Citra Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bolaang Mongondow Utara (Boltara) tengah berada di titik nadir. Fasilitas kesehatan yang seharusnya menjadi simbol harapan dan kesembuhan, belakangan justru dijuluki sebagai “arena uji nyali” oleh masyarakat lantaran kondisinya yang gelap gulita dan memprihatinkan.

Kritik tajam sebelumnya datang dari mantan legislator Boltara, Reba Pontoh. Dengan nada geram, ia menyebut kondisi infrastruktur rumah sakit tersebut sudah tidak manusiawi. Bau pengap dan suasana mencekam membuat RSUD kebanggaan daerah ini lebih mirip lokasi syuting film horor ketimbang pusat pelayanan publik.

Menanggapi tudingan miring tersebut, Direktur RSUD Boltara dr. Firlia Mokoagow akhirnya angkat bicara. Ia berdalih bahwa minimnya penerangan di area luar gedung disebabkan oleh masalah teknis.

“Untuk lampu sorot di luar gedung, memang ada kendala teknis berupa korsleting listrik,” ungkap Firlia saat dikonfirmasi diruang kerjanya, Selasa (07/04/2026).

Namun, pengakuan mengejutkan justru muncul terkait kegelapan di gang-gang rumah sakit. Sang Direktur Firlia mengakui bahwa suasana remang-remang tersebut bukanlah karena kerusakan, melainkan kebijakan sengaja demi menekan biaya operasional.

“Demi efisiensi anggaran, pihak manajemen menerapkan sistem pencahayaan minimalis. Lampu di lorong-lorong rumah sakit hanya dinyalakan secara selang-seling untuk mengurangi beban tagihan listrik.”tambahnya.

Selain masalah pencahayaan, RSUD Boltara sebelumnya juga diterpa isu terkait kualitas air yang dianggap tidak layak pakai. Menanggapi hal ini, Firlia mengklaim bahwa permasalahan air bersih saat ini sudah berhasil ditangani.

Ia menjelaskan bahwa pihak rumah sakit mengandalkan dua sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan operasional, yakni pasokan spam dari Dinas PUPR dan sumur milik mandiri RSUD.

“Sekarang masalah air bersih sudah selesai dan sudah bisa digunakan dengan baik karena kami menggunakan dua mata sumur,” jelasnya.

Meski membela kebijakan penghematan tersebut, pihak RSUD Boltara menyatakan tidak menutup mata terhadap keluhan masyarakat dan kritik dari berbagai tokoh masyarakat.

Firlia pun berjanji akan menjadikan isu ini sebagai bahan evaluasi internal. “Kami menerima setiap kritikan sebagai dasar perbaikan manajemen ke depannya agar pelayanan tetap berjalan meski di tengah keterbatasan anggaran,” pungkas sang Direktur.

(Angki)

Related Articles

Back to top button
Hide Ads for Premium Members by Subscribing
Hide Ads for Premium Members. Hide Ads for Premium Members by clicking on subscribe button.
Subscribe Now