Dari Lamongan ke Ujung Sulawesi: Kisah Inspiratif Mas Broo, Penjual Bakso dengan Omzet Jutaan di Boltara

Boltara, temposatu.com – Di balik motor gerobak bakso yang sederhana dan suara khas memanggil pelanggan, tersimpan kisah panjang perjuangan hidup seorang pria kelahiran Desa Sidomulyo Pleding, kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, tahun 1973. Dialah Mas Broo — begitu warga setempat memanggilnya.

Mas Broo (Slamet) warga Desa Talaga, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) hampir setiap sore suaranya menggema di jalan-jalan desa, disambut senyuman anak-anak hingga ibu rumah tangga. Namun, tak banyak yang tahu lika-liku perjalanan hidupnya hingga akhirnya menetap dan berjualan bakso di ujung utara Pulau Sulawesi.

Hijrah demi Harapan

Mas Broo mengawali kariernya sebagai penjual bakso di Lamongan sejak muda. Namun, persaingan usaha yang semakin ketat dan kebutuhan hidup yang terus meningkat membuatnya memutuskan untuk merantau. Setelah sempat mencoba peruntungan di beberapa kota di Jawa, ia akhirnya memilih hijrah ke Sulawesi.

“Saya dengar dari teman bahwa di Sulawesi, khususnya di Bolmong Utara, masih jarang yang jualan bakso keliling. Saya nekat saja ke sini tahun lalu,” ungkapnya sambil tersenyum.

Keputusan itu terbukti tepat. Sejak mulai berjualan di wilayah kecamatan Bolangitang Barat, pendapatannya perlahan meningkat. Kini, dalam sehari, Mas Broo bisa meraup omzet hingga satu juta rupiah. Sebuah pencapaian luar biasa bagi pedagang motor gerobak keliling.

Resep Turun-Temurun, Rasa yang Dirindukan

Salah satu rahasia sukses Mas Broo terletak pada racikan bumbu dan kuah bakso yang khas. Ia menggunakan resep keluarga yang diwariskan saudara kandungnya, yang juga pernah menjadi penjual bakso legendaris di kampung halamannya.

“Bakso ini bukan cuma soal rasa, tapi soal kenangan dan ketulusan. Saya masak sendiri, dari subuh, supaya pelanggan puas,” ujar Mas Broo.

Salah satu pengunjung pun mengakui kelezatan bakso Mas Broo. “Anak-anak kalau dengar suara ‘Baksooo… Mas Brooo!’ langsung lari keluar. Rasanya enak dan kuahnya beda, serta harga murah meriah hanya Rp 15.000 saja” kata bapak Ramlan salah satu pelanggan setia.

Mimpi Besar di Tanah Perantauan

Meski hidup jauh dari kampung halaman, Mas Broo tidak mengeluh. Justru, ia merasa telah menemukan tempat yang ramah dan mendukung usahanya.

“Saya bersyukur bisa diterima baik di sini. Ke depan, saya ingin buka warung bakso kecil, supaya bisa kerja lebih ringan dan punya tempat tetap,” tuturnya dengan harapan.

Kisah Mas Broo adalah contoh nyata bahwa dengan ketekunan dan keberanian mengambil risiko, mimpi bisa diwujudkan meski di tanah rantau. Dari Lamongan ke Boltara, semangatnya tak pernah surut—seperti semangkuk bakso hangat yang selalu ditunggu-tunggu para pelanggan setianya.(**)

Related Articles

Back to top button
Hide Ads for Premium Members by Subscribing
Hide Ads for Premium Members. Hide Ads for Premium Members by clicking on subscribe button.
Subscribe Now